My Dearest Friends

Friday, August 2, 2019

file:///C:/Users/SAVITRI/AppData/Local/Packages/Microsoft.MicrosoftEdge_8wekyb3d8bbwe/TempState/Downloads/form%20kantong%20tugas.html

Friday, April 26, 2019

MENJADI GURU MILENIAL BERSAMA SEAMEO-SEAMOLEC


Kemajuan zaman tidak akan terlepas dari yang namanya perubahan. Perubahan dalam segala hal, dan yang paling bisa dijadikan indikator adanya perubahan adalah teknologi.

Perubahan teknologi dari masa ke masa menuntut semua orang untuk mengikuti arus kemajuan zaman. Masa yang disebut zaman milenial ini telah menuntut semua orang untuk bisa dan bijak menggunakan teknologi diberbagai bidang, termasuk pendidikan.


Perbedaan cara berkomunikasi, menjadi menjadi ciri khas yang paling kasat mata. Seperti yang didefinisikan oleh para ahli, diantaranya:

1. Everett M Rogers mengatakan, “Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber pada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.”

2. Theodore M. Newcomb berpendapat, “setiap tindakan komunikasi dipadang sebagai suatu transmisi informasi, terdiri dari rangsangan yang diskriminatif dari sumber kepada penerima.”

Manusia pertama kali berkomunikasi secara lisan, setelah manusia mengenal symbol dan di sepakati menjadi sebuah pengantar, mulailah tulisan dijadikan sebagai alat komunikasi. Sejak saat itulah tulisan semakin berkembang, hingga mesin-mesin pencetak tulisan pun mulai di temukan. Berlanjut pada penemuan-penemuan alat komunikasi jarak jauh, ditemukannya telegraph dengan bahasa kode morse, berita bisa sampai dengan lebih cepat. Ditambah dengan adanya telepon, radio dan televisi, semua informasi pun bisa menyebar dalam waktu yang singkat.

Era yang cukup menggemparkan pada masanya, adalah ketika manusia memasuki era komunikasi interaktif. Dimana microchip mulai ditemukan, computer pun bisa memecahkan berbagai permasalahan dalam pekerjaan, bahkan beberapa tenaga manusia bisa digantikan oleh computer dalam wujud robot. Satelit mulai digunakan dalam komunikasi, hal ini menandakan mulainya era baru dalam dunia teknologi komunikasi. Dan ketika Tim Berners Lee menemukan program World Wide Web atau www, terbentuklah sebuah jaringan komunikasi yang sangat luas. Aprogram editor ini  mampu menjelajah dari satu computer ke computer lainnya.

Kemajuan semakin pesat, tidak terasa saat ini sudah memasuki generasi ke 4 dari Revolusi Industri. Bisa di bilang semua sudah terkomputerisasi, data dan informasi dengan mudah bisa didapat, ilmu pengetahuan pun tidak sulit didapat. Pembelajaran jarak jauh bisa dilaksanakan kapanpun, dengan bantuan peralatan canggih.

Dalam dunia pendidikan pun hal ini sangat membantu. Sambungan internet, dan pemanfaatan gadget sudah tidak asing lagi bagi pelajar “zaman now”, informasi mudah di akses kapanpun dimanapun.

Bukan waktunya seorang guru melarang siswa membawa gadget ke sekolah,sementara gerakan literasi digital sedang di gembor-gemborkan. Guru “zaman now” yang rata-rata lahir sebagai generasi X, sebaiknya dapat menyesuaikan denga perkembangan siswa di zaman milenial ini. Melarang siswa menggunakan gawai bukan solusi terbaik membatasi informasi negative. Namun bagaimana cara mengalihkan kegiatan siswa dalam penggunaan gadget akan sangat membantu dalam membentuk karakter siswa. 

Salah satu cara memanfaatkan gadget dalam dunia pendidikan diantaranya:

1. Buatlah aturan penggunaan gadget dalam kelas ketika masih dalam jam pelajaran,

2. Gunakan gadget untuk mencari informasi terkait dengan materi pembelajaran,

3. Ajarkan siswa memilih dan memilah info yang sesuai dengan usianya,

4. Perkenalkan siswa bagaimana cara berinternet sehat,

5. Perkenalkan virtual class langkah demi langkah,

6. Ajak siswa melakukan kegiatan Twinning Class,

7. Jangan lupa untuk melibatkan orangtua.


Hal-hal diatas bisa menambah pengalaman siswa dalam berbagai hal. Contohnya dalam Twinning Class, guru bisa mengajak siswa untuk berkomunikasi dengan kelas manapun di belahan dunia yang berjauhan. Bisa juga melaksanakan pembelajaran jarak jauh denga kondisi yang masih bisa bertatap muka, dengan menggunakan aplikasi virtual converence.


Webex adalah salah satu aplikasi yang disiapkan oleh SEAMEO-SEAMOLEC untuk mengembangkan praktek pembelajaran jarak jauh.  SEAMOLEC telah melatih ribuan guru dari seluruh Indonesia untuk menjadi Virtual Cordinator Indonesia (VCI) melalui Virtual Cordinator Training (VCI). Guru-guru dilatih untuk dapat menggunakan aplikasi Webex, yang nantinya dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran.


Webex sangat mudah digunakan. Hanya dengan masuk kedalam aplikasinya yang bisa diinstall dari play store, atau langsung masuk ke www.webex.com di pc atau laptop. Lalu gunakan meetingroom number yang diberikan oleh penyelenggara, dan masukan password yang juga sudah disiapkan. Untuk tutorial singkat penggunaan Webex bisa klik link berikut https://youtu.be/zAZ-LOmhRc4.
Virtual Cordinator Training untuk guru sudah dilaksanakan sebanyak 3 batch. Namun sebelumnya Ikatan Guru Indonesia (IGI) telah menggunakan fasilitas ini terlebih dahulu melaui program kelas maya dan pelatihan-pelatihan online lainnya. SEAMEO-SEAMOLEC memfasilitasi semua pelatihan online dalam kanal-kanal IGI dengan melatih terlebih dahulu guru-guru yang kemudian menjadi penanggung jawab setiap kanal. 
Dalam Virtual Cordinator Training, setiap peserta harus mampu mengambil setiap peran dalam diskusi. Ada tiga orang yang akan menjadi kunci dalam setiap diskusi, yaitu;

1. Host 
Tugas host adalah membuka kegiatan, memperkenalkan diri, mengontrol semua fitur yang ada, mengingatkan narasumber ketika gangguan teknis terjadi, dan menutup acara.

2. Moderator
Moderator bertugas memandu jalannya diskusi, dengan terlebih dahulu memperkenalkan profil narasumber, menyampaikan tema diskusi, dan memfasilitasi peserta untuk bertanya.

3. Narasumber
Narasumber bisa menyampaikan materi diskusi dengan waktu yamg telah disepakati. 

4. Tugas tambahan lainnya adalah, setiap peserta harus bisa membuat daftar hadir online dan flyer kegiatan berisi informasi meeting room, tema diskusi, dan waktu pelaksanaan.
Adapun fitur yang ada dalam webex, selain audio dan visual, peserta pun dapat berbagi berkas melalui tayangan materi dengan fitur share screen. Kegiatan virtual conference ini pun dapat di rekam dengan menggunakan aplikasi perekam yang bisa dipilih di play store.

Tidak lama lagi VCT Batch 4 Akan dilaksanakan, untuk yang masih penasaran dengan kegiatan ini, nantikan open recruitmen peserta VCT Batch 4 dalam waktu dekat. Jadilah guru milenial yang melek teknologi agar tercipta proses penbelajaran yang menyenangkan dan kekinian.

Sunday, April 14, 2019

PUISI






Pengklasifikasian Puisi

Puisi diklasifikasikan menurut masa penciptaannya oleh penyair. Terdapat dua kategori puisi yang secara umum sering digunakan sebagai metode penentuan jenis puisi. Puisi lama dan puisi baru adalah dua jenis puisi yang dikategorikan dari masa pembuatannya serta struktur teknisnya. Terdapat satu jenis puisi lain yaitu puisi kontemporer yang menjadi kategori bentuk puisi paling bebas saat ini.

1. Puisi Lama (hingga tahun 1920-an)

Puisi lama adalah puisi yang secara fisik masih terikat oleh aturan penciptaan. Aturan penciptaan yang dimaksud meliputi:
Jumlah kata dalam satu baris
Jumlah baris dalam satu bait (± 4 baris)
Memiliki rima (persajakan) Rima adalah bentuk pengulangan bunyi yang timbul oleh huruf atau kata dalam larik dan bait.
Contoh :
Berderai-derai
Terapung-apung
Mendesah-desah
Ketiga kata tersebut mengalami bentuk pengulangan bunyi kata dasar derai, apung, dan desah.
Jumlah suku kata pada tiap baris
Memiliki irama

Beberapa jenis sajak yang termasuk dalam puisi lama antara lain :

1.1. Mantra
Mantra adalah sebuah kata atau ucapan-ucapan pada masa lampau yang dipercaya memiliki kekuatan gaib. Biasanya mantra diungkapkan oleh seseorang yang dipercaya oleh kelompok masyarakat tertentu untuk digunakan sebagai media penyembuhan penyakit dan semacamnya.

Contoh mantra :
a. Mantra pengobat sakit perut
Gelang-gelang si gali-gali
Malukut kapada padi
Air susu keruh asalmu jadi
Aku sapa tidak berbunyi

b. Mantra mengobati dari gangguan makhluk halus
Sirih lontar pinang lontar
Terletak di ujung bumi
Setan buta jembalang buta
Aku sapa tidak berbunyi

c. Mantra berburu rusa
Sirih lontar pinang lontar
Terletak di ujung muara
Hantu buta jembalang buta
Aku angkat jembalang rusa

1.2. Pantun
Pantun (baca : jenis jenis pantun) adalah bentuk puisi lama yang memiliki sajak a-b-a-b , setiap baris berisi 8 -12 suku kata. Dua baris awal pada pantun merupakan sampiran (pengantar), sedangkan dua baris berikutnya disebut isi. Setiap bait berisi empat baris.
Contoh pantun :
Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit- sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian
Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
Tumbuh merata pohon tebu
Pergi ke pasar membeli daging
Banyak harta miskin ilmu
Bagai rumah tidak berdinding

1.3. Karmina
Karmina adalah bentuk pantun yang sangat pendek. Karmina sering disebut sebagai pantun kilat. Terdiri atas dua larik, yang pada larik pertama disebut sampiran, sedangkan larik kedua disebut isi.
Contoh karmina :
Ikan lele beli di pasar
Persoalan sepele jangan diumbar
Tiada umat sepandai Nabi
Tuntunlah ilmu sebelum mati
Air panas di dalam panci
Kurang pantas memuji diri
Gelatik mematuk ubi
Cantik itu yang berbudi
Tari saman indah gerakkannya
Tanda iman lapang dadanya

1.4. Seloka
Seloka adalah bentuk pantun yang saling berkaitan. Seloka merupakan bagian dari puisi Melayu Klasik yang berisis nasihat. Biasanya seloka ditulis dalam dua atau empat baris, terkadang juga ditulis dalam enam baris. Seloka termasuk dalam puisi bebas.
Contoh seloka :
Sudah bertemu kasih sayang
Duduk terkurung malam siang
Hingga setapak tiada renggang
Tulang sendi habis berguncang
Baik budi emak si Randang
Dagang lalu ditanakkan
Tiada berkayu rumah diruntuhkan
Anak pulang kelaparan
Anak dipangku diletakkan
Kera di hutan disusui

1.5. Gurindam
Gurindam merupakan bentuk puisi lama yang memiliki ciri-ciri didalamnya terdapat bait yang terdiri dari dua baris, memiliki sajak a-a-a-a. Gurindam banyak memuat nasihat kehidupan. Oleh sebab itu, pada masa lalu masyarakat Melayu khususnya sering menggunakan gurindam sebagai media menasihati generasi penerusnya.
Contoh Gurindam :
Pikir dahulu sebelum berkata
Supaya terelak silang sengketa
Apabila anak tak dilatih
Jikalau besar bapaknya letih
Kurang pikir kurang siasat
Tentu dirimu kelak tersesat
Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala
Tanda orang yang amat celaka
Aib dirinya tiada disangka

1.6. Syair
Syair adalah puisi yang berciri khas nasihat atau cerita pada tiap baitnya, bersajak a-a-a-a, berisi empat baris dalam satu bait. Keempat baris tersebut mengandung maksud penyair.
Contoh syair :
Berkatalah dengan sopan
Rajinlah belajar sepanjang masa
Ilmu tiada pernah habis dieja
Sebagai bekal sepanjang usia
Ilmu didapat tiada cepat
Mesti sabar hatinya kuat
Semoga Tuhan berikan rahmat
Maka jaga hati serta niat
Serta pandang api itu menjulang
Rasanya arwahku bagaikan hilang
Dijilatnya rumah-rumah dan barang-barang
Seperti anak ayam disambar elang

1.7. Talibun
Talibun (pantun genap) adalah jenis pantun yang terdiri dari bilangan genap (6, 8, 10) baris pada tiap satu baitnya.
Contoh talibun :
Sehabis dahan dengan ranting
Dikupas di kulit batang
Teras pengubar barulah nyata
Setinggi-tinggi melanting
Membumbung ke awing-awang
Baliknya ke tanah Jawa
Orang Padang memintal benang
Disusun baru dilipat
Dilipat baru dipertiga
Kalau direntang malah panjang
Elok dipintal agar singkat
Begitu pula kasih kita
Pergi merantau jauh ke negri seberang
Janganlah lalai membawa perbekalan berupa makanan
Jika tersesat di perjalanan ingatlah peta yang kau bawa
Serta jangan malu mendatangi orang untuk bertanya
Jika engkau berbuat baik kepada semua orang
Niscaya kebaikan pula yang akan engkau dapatkan
Sudahlah engkau kan dapat pahala
Di dunia pun engkau akan hidup bahagia


2. Puisi Baru (tahun 1920- sekarang)

Puisi baru adalah puisi yang tidak lagi memiliki keterikatan terhadap aturan penulisan seperti puisi lama. Dapat dikatakan puisi baru memiliki gaya penulisan yang bebas, baik pada baris, suku kata, maupun rima. Beberapa jenis sajak yang termasuk dalam puisi baru diantaranya adalah balada; himne; ode; epigram; romansa; elegi; satire; distikon; terzina; kuatrain; kuint; sektet; septima; oktaf; sonata. Pada penjelasan berikut akan diuraikan jenis jenis puisi baru tersebut.

2.1. Balada
Balada adalah puisi baru yang menggambarkan cerita, terdiri dari 3 bait, dengan masing-masing 8 larik, berima a-b-a-b-b-c-c-b kemudian beralih rima a-b-a-b-b-c-b-c.

Contoh balada :
Balada Orang-orang Tercinta
W.S Rendra
Kita bergantian menghirup asam Batuk dan lemas terceruk Marah dan terbaret-baret Cinta membuat kita bertahan dengan secuil redup harapan Kita berjalan terseok-seok Mengira lelah akan hilang di ujung terowongan yang terang Namun cinta tidak membawa kita memahami satu sama lain Kadang kita merasa beruntung Namun harusnya kita merenung Akankah kita sampai di altar Dengan berlari terpatah-patah Mengapa cinta tak mengajari kita Untuk berhenti berpura-pura? Kita meleleh dan tergerus Serut-serut sinar matahari Sementara kita sudah lupa rasanya mengalir bersama kehidupan Melupakan hal-hal kecil yang dulu termaafkan
Mengapa kita saling menyembunyikan Mengapa marah dengan keadaan? Mengapa lari ketika sesuatu membengkak jika dibiarkan? Kita percaya pada cinta Yang borok dan tak sederhana Kita tertangkap jatuh terperangkap Dalam balada orang-orang tercinta

2.2. Himne
Himne adalah puisi baru yang digunakan untuk memuji Tuhan, pahlawan atau tanah air.
Contoh himne :
Pahlawan Tanpa Lencana
Pagi yang indah deruan angin menerpa wajah
Dingin menyelimuti langkah penuh keikhlasan
Renungan hanya untuk sebuah kejayaan
Berfikir hanya untuk sebuah keberhasilan
Tiada lafaz seindah tutur katamu
Tiada penawar seindah senyuman mu
Tiada hari tanpa sebuah bakti
Menabur benih kasih tanpa rasa lelah
Hari demi hari begitu cepat berlalu
Tiada rasa jenuh terpancar di wajah mu
Semangat mu terus berkobar
Memberikan kasih sayang tiada rasa jemu
Jika engkau akan melangkah pergi
Ku tau  langkahmu penuh pengorbanan
Jika dirimu telah tiada dirimu kan selalu di kenang
Kau adalah pahlawan tanpa lencana.

2.3. Ode
Ode merupakan bentuk puisi baru yang berupa sanjungan kepada seseorang yang berjasa. Gaya bahasa yang dipilih dalam penciptaan Ode adalah tipe gaya bahasa yang anggun dan santun karena ditujukan untuk memuji.
Contoh puisi Ode :
Guruku…
Engkau pahlawanku
Pahlawan tanpa tanda jasa
Engkau menemaniku
Saatku di sekolah
Saatku belum mengenalmu
Engkau mengajariku
Mulai dari Taman Kanak- kanak
Hingga ku sampai kuliahGuruku…
Takkan kulupakan semua jasamu
Yang telah bersusah payah mengajariku
Hingga aku bisa
Terima kasih guruku


2.4. Epigram
Epigram adalah jenis puisi baru yang didalamnya memuat ajaran hidup.
Contoh puisi epigram :
LAGU KEMATIAN
Mati bagiku hanyalah istilah sementara esensinya sama saja karna hidup dan mati tiada beda
yang beda mampu tidak kita memaknai hidup dalam mati dan mati dalam hidup
Sebab : manusia terlalu sibuk memperebutkan simbol ketuhanan tanpa merengkuh sejatinya makna tuhan
2.5. Romansa
Romansa adalah jenis puisi baru yang dikarang oleh penyair dan berisikan kisah cinta atau perasaan penyair tentang cinta.
Contoh puisi romansa :
Dimana Aku Kau Sembunyikan ?
Ketika malam aku harus terjaga Mencari bayangmu di setiap dinding dinding malam
Mencari seulas senyummu di setiap sudut mataku Dan berakhir menuai ladang kepedihan
Ketika malam terus berlalu Masih aku merasakan begitu dekat dengan  mimpi
Hingga bintang bintang bertanya dimana aku kau sembunyikan ?
Karya :Roman Rantingbulan

2.6. Elegi
Elegi adalah jenis puisi baru yang berisi kesedihan.
Contoh puisi elegi :
Senja di Pelabuhan Kecil
Karya: Chairil Anwar
Buat Sri Ayati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali.
Kapal, perahu tiada berlaut,menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.
Gerimis mempercepat kelam.
Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan.
Tidak bergerak dan kini tanah, air tidur, hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri.
Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

2.7. Satire
Satire adalah puisi baru yang berisi kritikan.
Contoh puisi satire :
Aku bertanya
Oleh : WS Rendra
Aku bertanya…
tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan, sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya, dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan, termangu-mangu dalam kaki dewi kesenian.

2.8. Distikon
Distikon adalah sajak yang didalamnya berisi dua baris kalimat, dalam tiap baitnya berima a-a.
Contoh puisi distikon :
Ilmu
Wahai ananda carilah ilmu Lewat guru dan juga buku
Jangan lantas berputus asa untuk tatap hidup sentosa
(Mohammad Ridwan)

2.9. Terzina
Terzina adalah jenis jenis puisi yang pada tiap baitnya terdiri dari 3 baris
Contoh puisi terzina :
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana Mengharum bagai cendana
Dalam bah’gia cinta tiba melayang Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari Dari ; Madah Kelana
Karya : Sanusi Pane


2.10. Kuatrain
Kuatrain adalah puisi yang terdiri dari 4 baris dalam tiap baitnya.
Contoh puisi kuatrain :
Mendatang-datang jua, kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua, yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua, adi kanda lama lalu
Membuat hati jua Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)


2.11. Kuint
Kuint adalah puisi baru yang tiap baitnya berisi lima baris.
Contoh puisi kuint :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakanSatu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkanSatu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)


2.12. Sektet
Sektet adalah puisi baru yang berisi enam baris pada satu bait.
Contoh puisi sektet :
Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)

2.13. Septima
Septima adalah puisi yang pada tiap baitnya terdiri dari tujuh baris.
Contoh puisi septima :
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)

2.14. Oktaf
Oktaf adalah jenis puisi baru yang pada tiap baitnya berisi 8 baris.
Contoh puisi oktaf :
Awan Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)


2.15. Soneta
Sonata adalah puisi baru yang terdiri dari 14 baris.
Contoh puisi sonata :
Gembala Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c ) 
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)


3. Puisi Kontemporer
Puisi kontemporer adalah puisi yang tidak lagi berbicara mengenai kelihaian penyair berbahasa, tetapi lebih kepada struktur tipografi, dan terkadang muncul bahasa kasar.
Contoh puisi kontemporer :
O dukaku dukakau dukarisau dukakalian dukangiau
resahku resahkau resahrisau resahbalau resahkalian
raguku ragukau raguguru ragutahu ragukalian
mauku maukau mautahu mausampai maukalian maukenal maugapai
siasiaku siasiakau siasia siabalau siarisau siakalian siasia
waswasku waswaskau waswaskalian waswaswaswaswaswaswaswaswaswas
duhaiku duhaikau duhairindu duhaingilu duhaikalian duhaisangsai
oku okau okosong orindu okalian obolong o risau o Kau O…

Ciri Khas Puisi lama dan Puisi Baru.
Beberapa ciri khas sebuah puisi yang dapat disebut sebagai puisi lama yaitu :
Tidak diketahui nama pengarangnya (cenderung bersifat kolektif), seringkali berupa puisi rakyat
Terikat oleh aturan, jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata pada tiap baris
Dari mulut ke mulut (secara lisan), dapat disebut sebagai folklor
Majas (gaya bahasa) yang digunakan bersifat tetap dan klise
Istanasentris, menggambarkan masa kerajaan

Ciri khas puisi baru antara lain :
Jelas nama pengarangnya
Tidak terikat aturan bait, baris, suku kata, dan rima bebas
Diungkapkan secara lisan dan tulis
Majas bersifat dinamis
Menggambarkan kehidupan pada umumnya

Struktur Batin dan Struktur Fisik Puisi
Pada penciptaannya, puisi mewakili pemikiran pengarang yang dimaksudkan untuk media penyampaian pesan kepada pembacanya. Oleh sebab itu, sebuah penilaian terhadap puisi memenuhi dua fungsi struktural yaitu struktur batin dan struktur puisi. 

Penjelasan kedua struktur yang terdapat dalam puisi tersebut akan diuraikan pada materi berikut.

1. Struktur Batin pada Puisi
a. Tema atau Makna
Dalam penciptaannya puisi menggunakan bahasa sebagai media penyampaian pesan kepada pembaca. Hal tersebut pada akhirnya memunculkan pentingnya tema atau makna awal dari pembuatan puisi tersebut. Puisi harus memiliki tema serta makna yang dapat dilihat pembaca meski bersifat abstrak.

b. Nada
Nada pada struktur ini adalah sikap penyair saat memberikan intonasi pada puisi karyanya, dengan maksud memperindah pembacaan puisi.

c. Rasa
Rasa merupakan hal yang penting pada penciptaan puisi. Rasa dalam hal ini adalah sikap penyair dalam merespon segala peristiwa yang kemudian mengilhami dirinya untuk menciptakan puisi.

d. Amanat
Amanat adalah hal yang wajib terkandung dalam setiap puisi. Puisi sebagai karya tidak hanya bersifat menghibur, melainkan juga media penyampaian nasihat bagi pembacanya.


2. Struktur Fisik pada Puisi
a. Rima
Rima atau irama adalah perulangan bunyi yang dinilai cukup penting dalam puisi karena dengan adanya rima, puisi dapat terdengar berirama indah saat dibaca.

b. Imajinasi
Imajinasi yang disampaikan lewat puisi berfungsi untuk mengajak pembaca turut merasakan dengan pengalaman indera mereka sehingga apa yang ditulis pengarang tergambar secara nyata di benak pembaca.

c. Gaya bahasa
Gaya bahasa dalam puisi diperlukan untuk memberikan gambaran konotasi kepada pembaca, memunculkan khayalan kepada pembaca yang nantinya memudahkan mereka untuk memahami makna yang tersimpan dalam puisi tersebut.

d. Diksi
Pilihan kata diperlukan oleh penyair agar segala pesan dapat disampaikan secara tepat kepada pembacanya. Beberapa awam bisa jadi kurang mengerti jika penyair menggunakan kata yang tidak konkret sehingga terkadang diperlukan pemaknaan atau penjelasan kembali pada bait berikutnya untuk memudahkan pembaca.

e. Tipografi
Tipografi adalah aturan teknis pada baris, bait yang tidak seluruhnya dipenuhi dengan kata-kata. Hal ini dapat memunculkan pemaknaan baru pada puisi tersebut khususnya bagi puisi kontemporer.

Friday, April 5, 2019

Bangku Di Sudut Taman Kota




Hari sudah malam, ketika aku tiba. Lima jam perjalanan aku tempuh dengan bis. Tiba-tiba saja aku kangen kota kelahiranku yang sebenarnya baru beberapa tahun saja kutinggalkan. Entah kenapa, memang hari ini selalu tampak special. Bukan karena pada tanggal ini aku dilahirkan, tapi lebih pada bersama siapa biasanya aku menghabiskan malamku. 


 Lapangan di tengah kota, yang sekarang sudah menjadi Alun-alun megah menjadi tujuan pertama setelah aku turun dari bis. Langkah kakiku langsung tertuju pada salah satu sudut taman. Dulu disini ada abah penjual bandros. Tidak ada yang luar biasa dari bandros Abah. Hanya saja keramahan Abah pada semua pelanggannya dan Abah yang selalu setia mendengar keluh kesah siapa pun, itulah yang membuat abah istimewa Sekarang sudut ini sudah menjadi taman bermain.


Bangku kayu tempat kami biasa duduk, sudah berubah menjadi bangku besi. Kolam kecil berisi ikan mas pun kuni sudah tidak ada. Hanya tiang tinggi bersorot lampu keemasan yang masih utuh berdiri tepat di samping bangku. 


 "Aam? Kamu Aam, kan?" Sebuah suara dari balik badan, kudengar sesaat setelah aku lepas lelah. "Kapan sampai? Tepat dugaanku, malam ini pasti kamu datang." 


Aku berbalik badan untuk memastikan bahwa yang kudengar memang suara Mia. "Mia, ngapain malam-malam kamu disini?" tanyaku.  


"Hai, aku sehat dan kabarku baik-baik saja!" Jawab Mia dengan nada sedikit meninggi.


 "Hehe... iya maaf, apa kabar? Ngapain disini?" Aku kembali bertanya. Sebenarnya aku khawatir. Ini kota kecil, meskipun di tengah kota, tetap saja keadaannya sepi. 


 "Kamu lupa? Rumah aku kan hanya beberapa blok dari sini. Dan ini kan hari ulang tahun kita, setiap tahun sejak kepergian kamu, aku selalu datang dan berharap kamu ada disini. Duduk di bangku ini seperti dulu." 


 Mata mia berkaca-kaca. Seperti seorang anak yang mendapatkan mainan yang diinginkannya. Luar biasa, Mia masih tetap sama seperti ketika aku tinggal pergi. Tanggal lahir kita sama, itu yang membuat kami begitu merasa istimewa satu sama lain. 


 Tak lepas aku menatap wajah perempuan yang terus bercerita dihadapanku ini. Seolah ia ingin menggantikan semua masa yang sudah hilang di antaraa kami. Belum sempat aku bertanya banyak, Mia sudah akan beranjak pergi. 


 "Temui aku disini, besok, diwaktu yang sama ya. Sudah malam, aku harus pulang." 


 "Mia, aku antar ya?" 


 "Eit... jangan! Kamu tahu dimana rumahku, kamu bisa datang kapan aja, tapi malam ini jangan antar aku, oke! Itu kalo kamu masih mau ketemu aku." jawabnya. 


 "Baiklah, besok, disini..." Aku sedikit kikuk menyanggupi keinginan Mia, tidak seperti dulu. 


 "Oke, jam yang sama... " Lanjut mia sambil berlalu pergi. Rasanya rindu ini sedikit terobati. 


 "Selamat malam, Pa. Maaf, taman sudah akan ditutup, disini berlaku jam malam." Suara berat seorang petugas keamanan mengagetkanku. Akupun beranjak pergi, kutoleh arah Mia berjalan, tapi dia sudah tidak tampak. 


 *** 


 Pertemuanku dengan Mia kemarin malam masih membuatku heran. Setiap tahun sejak kepergianku meninggalakan kota ini, dia selalu menunggu di taman ini? 


Seberarti itukah aku untuknya? Akupun sebenarnya kangen, tapi rasa kagetku kemarin mengalihkan segalanya, aku tidak sempat memeluknya, menjabat tangannya pun tidak.


 Setengah jam sebelum waktu yang ditentukan aku berjalan menuju bangku di pojok taman. Aku kira aku akan mendahuluinya, ternyata Mia sudah disana. Dia tersenyum menyambut kedatanganku. Sweater hijau pupus kesayangannya tampak nyaman menempel di tubuh semampai yang begitu aku kenal.


 Rentangan tanganku untuk memeluknya, tidak bersambut. Mia mengajaku duduk. "Aku tahu, kamu pasti akan datang lebih cepat, jadi aku dahului saja." Ucapnya ringan. 


 "Selalu saja ada kejutan yang kamu buat, apakabar malam ini?" Aku hendak memegang tangannya, namun ia mendadak berdiri. 


 "Well, aku masih sama seperti yang dulu, justru kamu yang lupa dengan apa yang terjadi. Nah, sebelum malam ini berlalu, aku minta kamu diam dan dengarkan semua ceritaku, bisa?" pinta Mia. 


 8 tahun aku meninggalkan kota ini untuk bekerja, begitu banyak peristiwa yang aku lewatkan. Mia dengan lincahnya menceritakan segala perubahan yang terjadi sejak aku pergi. Bagaimana ia menghabiskan waktu tanpa aku bersamanya, betapa semangatnya ia datang ke taman ini setiap tahun hanya untuk menunggu kedatanganku, dan segala harapan yang ia simpan untukku. Namun Ia menutup ceritanya dengan kata-kata yang tidak begitu aku pahami. 


 "Setelah hari ini, semua jadi keputusanmu. Apakah kamu akan terus kembali ketempat ini, atau kamu akan ikut bersamaku?"


 "Maksud kamu apa?" Tanyaku ragu. 


 "Aku tunggu jawabanmu besok ya, atau kamu tidak akan melihatku lagi." Mia mengakhiri ucapannya dan berlari menjauh. 


 Aku coba mengejarnya, namun ia berbalik dan menggerakan telunjuknya kearahku. "Jangan ikuti aku, kamu tahu tempat tinggalku, tapi jangan malam ini." 


 Persis seperti yang ia katakan kemarin. Mungkin ia bermaksud menemuiku lagi esok di tempat dan waktu yang sama. 


 Aku akan mencari tahu keadaan yang sebenarnya. Akan aku datangi Mia di rumahnya, agar tidak ada alasan dia untuk menghindar, dan ia harus menceritakan semua yang telah terjadi. 


 *** 


 Rumah Mia adalah tujuanku siang ini. Bangunan tua yang cukup artistik dengan halaman yang luas, belum hilang di ingatanku.


 Langkahku terhenti ketika aku dengar langkah kaki beberapa orang hendak meninggalkan halaman rumah. 


 "Dokter bilang dia kritis di ICU, kita harus siap dengan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Mama bawa foto Aam yang ada di atas meja? Kita berangkat sekarang ya." 


 Tak lama berangkatlah mobil kedua orangtua Mia. Mereka tampak jauh lebih tua dari yang aku ingat. 


 "Foto? Foto aku yang diatas meja? Siapa yang sedang kritis?" Kepalaku terisi penuh pertanyaan yang meragukan. 


Jika yang dimaksud adalah Mia, aku harus menemuinya. Apa yang terjadi pada Mia? 


"Rumah sakit kota hanya beberapa blok dari sini, aku bisa menyusul mereka!" Tekadku telah membawa kekuatan yang luar biasa, aku berlari secepat yang aku bisa. 


 Orang tua Mia terlihat baru saja memasuki lift dan naik. Tangga darurat jadi pilihanku, ICU hanya 3 lantai diatasku. Aku tiba beberapa saat setelah mereka masuk ruangan. 


 "Aku terlambat." Gumamku dalam hati. Aku tidak bisa masuk dan belum sempat bertanya pada mereka. 


Kesempatanku hanya mengintip kedalam dari jendela yang tirainya tersingkap. Aku sisir beberapa ruang didalam dengan mataku. Tepat di depan mata ternyata dapat kulihat jelas Mia terbaring. Selang infus, oksigen, dan monitor vital signs terpasang di sekelilingnya. 


"Ya Tuhan, Mia, Kamu kenapa?" Hanya itu kata yang dapat meluncur dari mulutku. 


Sepertinya hatiku hancur melihat pemandangan di hadapanku. Kelebat sebuah kecelakaan lalulintas terlihat dari alam bawah sadarku. Suara decit rem mobil, hantaman benda keras yang bertubi-tubi, bahkan ledakan yang sangat keras memekakan telinga. 


 Kututup telinga dan berlari. Hari sudah gelap. Aku kembali ke sudut taman untuk menenangkan diri, sebelum aku melanjutkan niatku untuk ke Rumah Mia. 


 Berkali-kali aku mencoba merangkai kejadian yang terjadi. Lalu kilas bayangan yang sejak siang aku lihat ini, sebenarnya apa? Kupejam mata dalam-dalam. 


Tak lama kurasa tangan seseorang meremas bahu kiriku. "Aam... kamu sudah lihat keadaanku?" Terkejut aku mendengar suara Mia dibelakangku... bukankah ia tadi.... 


*** 


 Aku berdiri dan membalik badan. Masil dalam kebingungan, aku bertanya, "Mia? Kenapa kamu disini?" 


 "Kamu lihat kondisi aku, kan? Jadi bagaimana? Apa kamu akan terus datang ketaman ini setiap tahun, atau kamu akan ikut bersamaku?" Mia mengulang pertanyaan yang kemarin ia lontarkan. 


 "Apa maksud kamu sebenarnya?" Aku masih belum bisa menyadari apa yang terjadi. "Aku lihat kondisimu kritis di rumah sakit, lalu kamu ini apa?" 


 "Aku, Mia. Sudah satu tahun aku terbaring disana. Aku terlalu lelah menunggu kamu disini setiap tahun. Setiap kali kamu datang, aku harus bercerita semua, cerita yang akan kamu lupakan ketika kamu pergi. Semua terus berulang." 


 "Ada apa sebenarnya ini?" Tanyaku mempertegas semuanya. 


 "Aam, kamu tidak pernah pergi dari kota ini. Delapan tahun lalu bis yang akan membawamu pergi, jatuh terperosok kedasar jurang dan meledak. Hanya sebagian dari jasadmu yang bisa ditemukan. Kamu sudah meninggal, Am. Delapan tahun yang lalu."


 Kepalaku mendadak pening, mencoba memahami yang Mia ceritakan. Bagaimana mungkin aku sudah meninggal? 


 "Hal apa yang bisa kamu ingat selama ini? Tidak ada, kan?" Mia menatapku. Memang, tidak ada yang aku ingat, aku hanya merasa rindu yang sangat berat akan tempat ini, aku kembali, dan semua berakhir dengan cerita Mia saat ini. 


 "Kalau memang aku sudah meninggal, kenapa kamu bilang, kamu selalu menunggu aku setiap hari ulang tahun kita tiba?" 


 "Karena kamu selalu datang ke tempat ini!" Nada tinggi terlontar dari mulutnya. 


 "Semula, aku yang tidak bisa menerima kematianmu, dan selama beberapa bulan, hampir setiap malam aku duduk disini. Namun setahun kemudian, banyak orang mulai melihat sosokmu ada disini, di bangku ini, tepat pada hari ulang tahun kita dan hari kecelakaan itu terjadi." 


 Aku semakin bingung dengan apa yang ku dengar, seolah ribuan ton beban berat menimpa tubuhku. Aku hanya mampu terduduk lemas. 


 "Aku membuktikannya sendiri. Tahun berikutnya aku bisa melihatmu, berbicara dan melepas rindu akan sosokmu. Walau itu hanya berlaku selama tiga hari saja, dan kamu kembali menghilang dan melupakan apa yang terjadi. Setiap tahun sampai hari ini, aku masih bisa menemuimu. Tapi mungkin ini yang terakhir." 


 "Mia ...." Hanya itu yang sanggup aku ucapkan. Semua kejadian tentang kecelakaan dan tangis duka orang-orang yang aku sayangi mulai jelas aku ingat. Kedatanganku setiap tahun ke tempat ini pun aku lihat. 


Aku hanya bisa terisak. Selama itu kah aku tidak menyadari akan kematianku sendiri? Aku telah membuat Mia menderita denga terus datang kemari. Isakku pecah menjadi tangis. Entah apa yang aku rasakan. 


 "Tubuhku sudah lelah, dan tadi aku sudah bisa menyentuhmu, mungkin ini hari terakhir aku didunia ini." 


 "Nggak... nggak, ga boleh, Mia... Jangan! Bertahanlah, aku berjanji ini terakhir kali aku mememuimu. Kamu harus sehat. Bangun Mia!" 


 "Tidak, Am... Aku lemah, dan setiap orang mengira aku stress karena kehilangan kamu. Biarkan aku pergi. Aku hanya ingin tahu, apakah kamu mash akan terus berkunjung ke tempat ini atau kamu akan ikut bersamaku melanjutkan perjalanan." Mia mengulurkan tangannya. 


 Penglihatanku sedikit kabur, bayangan Mia mulai memudar. Dalam kesadaran yang tidak sempurna, aku bergumam, "Aku akan ikut bersamamu."


****

Thursday, April 4, 2019

CERPEN : FUR ELISE



Namaku Elise, Papa bilang nama ini sudah disiapkan sejak aku belum lahir.  Baru setelah aku bisa mengerti cerita, aku mengetahui bahwa namaku diambil dari salah satu komposisi klasik milik Ludwig Van Beethoven. Mama sangat menyukai Fur Elise, Papa pun jatuh cinta pada pandangan pertama saat  Mama memainkan komposisi ini, dan ketika mereka menikah, mereka ingin salah satu anak perempuannya bernama Elise.

Papaku seorang pemain flute, dan Mama adalah seorang pianis. Mereka tergabung dalam sebuah grup orchestra ternama di kota ini. Pertemuan pertama mereka pun terjadi di sebuah akademi musik yang mereka masuki pada belasan tahun yang lalu. Hal ini menjadikan kami dikenal sebagai keluarga musisi – setidaknya, itu yang orang lain pikir tentang keluarga ini.

Kakak lelakiku, Bastian, sangat mahir memainkan gitar. Kakak perempuanku, Clara, bakatnya luar biasa, selain cello ia pun piawai memainkan piano seperti Mama. Sedangkan aku, sejak kecil aku hanya suka melihat mereka berlatih, aku akan bertepuk tangan mengikuti nada yang keluar dari alat musik mereka.

Berbagai alat musik mencoba mereka ajarkan padaku, Mama berharap aku dapat menguasai piano seperti dirinya. Berbagai jenis piano mainan sejak kecil dikenalkan padaku, aku senang... tapi hanya melihatnya sebagai mainan saja. Segala cara dicoba untuk memperkenalkan aku pada nada, tapi sepertinya aku sangat lambat beradaptasi dengan perubahan-perubahan nada yang aku dengarkan. Berbeda dengan kedua kakakku, mereka sudah mahir memainkan piano sejak balita, dan pada saat duduk di bangku sekolah dasar mereka sudah memiliki alat musik kesukaan mereka sendiri, gitar dan cello.

“Elise... mari... sini, Nak!” Ajak Mama, ketika melihat masuk rumah sepulang sekolah. “Sini duduk dekat Mama...” Mama tersenyum dan melanjutkan permainannya. Musiknya sangat indah, aku suka, dan badanku mulai bergoyang di sebelah mama mengikuti gerakan badan mama yang tampak terbawa dengan alunan denting piano.

Fur Elise... Untuk Elise...” Aku tersenyum, aku sangat mengenal musik ini, karena sejak kecil mama sering memainkannya untukku.

“Ayo coba...” Mama bergeser untuk memberiku tempat. Aku duduk dan menatap tuts piano. Sebenarnya aku senang, hanya saja ketika kutekan tuts pertama, “ting...”, terdengar sumbang. Mama tersenyum. “Ayo lagi...” Mama dengan tenang mengajak aku mencoba lagi. Namun sekarang Mama mendampingiku bermain dengan menekan nada pada oktaf yang berbeda.

“Pintar, anak mama!” Mama mencium keningku dan menyuruhku berganti pakaian kemudian mengajaku makan siang. Akhirnya aku bisa menyelesaikan Fur Elise walau terpatah-patah, pada permainanku yang ke sebelas kali.

Aku senang melihat mama tersenyum, aku sudah membuatnya bahagia hari ini. Aku gantung seragam putih merahku, kuganti dengan pakaian yang sudah mama siapkan di atas tempat tidurku. Aku menuju meja makan dan bersiap untuk santap siang bersama keluargaku.

Semua tersenyum melihat kedatanganku, sepertinya mamah sudah bercerita tentang keberhasilanku memainkan Fur Elise hari ini. Benar saja... Papa dan kedua Kakakku memuji kemajuanku hari ini. Kami makan dengan diiringi pembicaraan tentang rencana-rencana untuk tampil bermusik bersama.

Aku hanya bisa tersenyum melihat mereka, keberhasilanku yang tidak seberapa membuat mereka bahagia, berarti harapan mereka memang besar untuk bisa mengajaku bermain dalam sebuah orchestra dikemudian hari, semoga aku tidak mengecewakan mereka. Ini adalah makan siang yang paling membahagiakan untukku, akan selalu aku ingat saat-saat ini dalam benakku.

***

Berminggu-minggu aku berlatih, jari-jariku yang semula selalu terasa akan kram jika bermain piano, sekarang sudan mulai lentur menari diatas tusts piano. Mama pun sudah tidak lagi mendampingiku duduk dibangku depan piano, Mama cukup menepuk tangan dari kejauhan jika mendengar aku melakukan kesalahan.

Dua hari lagi kami sekeluarga akan tampil dalam sebuah acara di sekolahku. Keluargaku sudah banyak dikenal sebagai keeluarga musisi klasik, kecuali aku. Malam pertunjukan ini pun manjadi malam perdana aku tampil bersama keluarga sebagai seorang pianis cilik. Papa sudah mengaransemen beberapa musik klasik yang akan kami mainkan, tentu saja bagianku hanya Fur Elise.

Bastian dan Clara tidak henti membantuku berlatih dan menunjukan bagian-bagian mana aku akan tampil solo dan tampil bersama mereka. Aku akan bermain di bagian awal, kemudian diselingi dengan permainan gitar bastian, lalu kami akan bermain bersama. Aku sudah dapat membayangkan suasana di aula sekolahku yang akan dipenuhu ratusan pasang mata yang menonton kami.

“Elise, dicoba dulu kostumnya, kalo masih kurang pas masih bisa diperbaiki.” Ucapan Mama membuyarkan bayanganku tentang malam penampilan kami. Sebuah dress berenda berwarna putih yang cantik, aku pasti terlihat manis dalam kostum ini. Aku berlari ke kamar Mama untuk mencoba gaun ini.

“Pas, Ma...” Aku berputar beberapa kali di depan cermin, Mama memakaikan sebuah mahkota perak yang indah. “Semoga permainanku nanti akan secantik gaun ini.” gumamku.

“Kenapa hanya baju aku yang berwarna putih, Ma, yang lainnya hitam.” Aku bertanya ketika melihat dua buah tuxedo milik Papa dan Bastian, juga gaun Mama dan Carla.

“Karena ini hari istimewa buat kamu, kami ingin kamulah yang menjadi pusat perhatian nanti.” Jawaban Mama semakin memberatkan aku. Aku tidak boleh membuat sedikitpun kesalahan.

Dua hari berikutnya terasa begitu berat buatku, kami berlatih lebih lama dari biasanya. Tanganku sebenarnya mulai terasa pegal, tapi aku harus terus berlatih untuk tampil sempurna. Aku dan seluruh keluargaku akan tampil di hadapan guru dan kawan-kawanku beserta keluarga mereka.

Aku berlatih hingga cukup lelah, bahkan mungkin terlalu lelah. Malam ini aku pasti akan tertidur sangat nyenyak. Aku buka sketch book miliku, aku goreskan pinsil gambarku seperti yang biasa aku lakukan sebelum tidur. Tanpa direncanakan, aku menggambar suasana panggung diaula sekolahku, lengkap dengan gambar lima orang dengan alat musik, aku meggambar keluargaku yang sedang pentas.

Ini adalah satu hal yang keluargaku tidak pernah tahu, aku memiliki banyak sketch book yang sudah seperti diary untukku. Menurut guru seni di sekolahku, aku sangat berbakat dalam menggambar, hanya saja aku takut Mama dan Papa akan kecewa jika mereka tahu ternyata aku lebih mahir menggambar dibanding barmain alat musik. Aku pun diam, ketika tanpa sengaja keisengan kawanku di kolam renang telah membuat telinga sebelah kiriku sedikit terganggu saat mendengar nada keras, aku sering merasa pusing. Karena itu lah, penampilanku besok sangat berarti, walau hanya sekali, aku dapat bermain musik bersama seluruh anggota keluargaku.

Aku terlelap di atas kertas gambarku, semoga besok aku tidak terlambat bangun,  aku masih punya waktu satu hari untuk menyempurnakan permainan pianoku sebelum tampil.

***

Aku terbangun dengan rasa dingin di kakiku, rupanya jendela kamar terbuka dan aku tidur tanpa berselimut. Sepertinya sudah lewat tengah hari, aku heran kenapa Mama tidak membangunkanku. Biasanya Mama akan sangat cerewet jika waktu latihan terlewatkan. Aku mandi dan merapikan diri. Entah kenapa tanganku meraih gaun putih yang akan kupakai besok malam.

“Aku akan pakai gaun ini, sekalian nyoba gimana rasanya bermain piano dengan kostum yang bagus.” Aku tersenyum dalam hati, Mama pasti terkejut.

Aku keluar kamar dan mengendap menuruni tangga, aku akan buat kejutan dengan tiba-tiba memainkan piano. Aku intip kebawah, Mama, Papa, dan kedua kakakku sedang berada di ruang tamu, sepertinya ada tamu yang baru saja akan pulang.

Kembali kulanjutkan niatku. Aku turun perlahan, menggeser bangku dengan sangat pelan agar tidak bersuara, dan membuka penutup piano. Aku tutup mata dan berdoa, semoga permainanku kali ini akan menjadi kejutan indah untuk mereka. Aku buka mata dan mulai menekan tuts piano, “Ajaib.” Permainanku terdengar sangat indah, aku pun terhanyut dan menutup mata. Sepertinya aku sudah sepetri Mama.

Aku mendengar mama terisak, ”Kenapa mama menangis?” aku bertanya dalam hati. Seharu itukah Mama melihat permainanku? Aku lanjutkan hingga selesai, ingin aku buka mata, tapi lagi-lagi aku tidak ingin mengecewakan Mama dengan berhenti di tengah permainan piano ini. Aku berusaha menikmati musik yang kumainkan, walau tangisan Mama terdengar semakin keras.

Hingga usai Fur Elise aku mainkan, aku membuka mata dan berpaling ke arah Mama dan yang lain, aku tersenyum. Tapi kenapa mereka menangis? Mama berlari ke arahku, aku hendak memeluknya, tapi mama menjatuhkan diri di samping bangku tempat kami bermain piano. Aku heran dan berdiri.

“Mama, kenapa? Permainan aku jelek ya?” Mama tidak menjawab, mama membenapkan wajahnya di atas tangan yang terlipat di bangku. Sementara Papa meraih pundaknya untuk berdiri.

“Sudah, Ma, ayo bangun. Jangan membuat anak-anak semakin bersedih.” ucap Papa.

Aku semakin bingung, ada apa dengan mereka? Mereka tidak mendengar panggilanku. Aku lari ke arah  Bastian dan Carla, aku tanya apa yang terjadi dengan Mama? Tapi merakapun tidak menjawab. Aku semakin bingung. Bukankah besok kita akan tampil bersama? Apakah permainanku tadi begitu mengecewakan.

Aku duduk di samping Bastian dan Carla, tanpa bicara aku coba menebak apa yang terjadi. Mataku tertuju pada tumpukan kertas gambar di atas meja. Semua gambar yang aku buat ada di sana. Aku sedikit panik, mungkinkah Mama sudah melihat semuanya? Aku tahu mama pasti marah, karena beberapa gambar diantaranya menunjukan aku sangat lelah berlatih piano, gambar-gambar tentang perasaanku saat mendengar suara yangterlalu kencang dan membuatku sakit kepala. Aku ceroboh, tidak merapikan kertas gambarku sebelum tidur tadi malam, sehingga mama menemukan semuanya.

“Elise... Maafkan Mama, Nak!” Baru saja aku hendak membereskan kertas di atas meja, aku dengar Mama meminta maaf, tapi untuk apa?

“Mama sudah memaksamu terlalu keras, mama tidak memahami keinginan kamu, maafkan mama ya, Sayang!” Tangis Mama pecah semakin keras, disusul dengan tangis Carla.

Hampir saja aku menutup kuping, tapi tidak kurasakan sakit seperti biasa. “Telingaku sudah sembuh! Ma, aku bisa berbain piano dengan baik sekarang. Aku siap untuk besok, Ma!” teriakku. Tapi sepertinya tidak ada yang mendengarku.

“Mama, terlalu egois memaksa kamu bermain piano, Nak! Mama tidak memperhatikan perasaanmu. Sekarang kita semua kehilangan kamu, Elise, putri kesayangan Mama.”

Apa maksudnya ini? Aku menebak apa yang sebenarnya sudah terjadi. Tadi malam aku memang lelah dan kepalaku sangat sakit usai berlatih, kemudian aku tidur dengan sangat nyenyak. Lalu apa lagi yang terjadi?

“Mama, sudah, Elise sudah tenang di Surga, dia sudah bisa melakukan apapun yang dia mau. Mama jangan buat dia sedih, kita doakan saja ya.” Papa kembali memeluk dan menenangkan Mama, Carla mengambilkan segelas air minum, sementara Bastian membereskan kertas-kertas gambarku, dan menyimpannya kembali di kamarku.

Apa maksud papa, aku sudah tenang di surga? Apa aku meninggal? Hatiku sepertinya patah, aku sedih mendengar itu semua, ingin aku memeluk semuanya, namun tidak bisa. Berapa kerasnya pun aku berusaha, aku tetap tidak bisa memeluk mereka. Aku tersedu, namun sesuatu membuatku berhenti. Perasaan ini, perasaan ini seperti aku terlepas dari sesuatu yang sangat berat. Telingaku dapat kembali emndengar dengan jelas, sakit dikepalaku tidak lagi terasa, dan tanganku yang terasa pegal dan kaku pun sekarang terasa sempurna.

“Mama! Aku sembuh mah! Mama jangan kuatir, aku baik-baik saja disini. Mama jangan menagis lagi, jika mama kangen aku, mainkan saja Fur EliseI maka mama akan merasakan aku di samping mama.” Hanya itu kata-kata yang sempat aku ucapkan, sebelum aku merasa sesuatu mengajak aku ke suatu tempat yang begitu indah, tempat dimana aku akan menunggu Mama, Papa, Bastian dan Carla untuk dapat memainkan musik bersama.   


***

Wednesday, April 3, 2019

TOM DAN HUJAN


Perjalanan Rahmi menuju Bandung harus terhenti saat mini bus yang ditumpangi mengalami pecah ban, dan tidak hanya satu ban. Tiga ban mobil gembos, sehingga perjalanan tidak dapat dilanjutkan karena ban cadangan hanya ada satu buah. Mereka harus menunggu mobil berikutnya yang akan membawa ban lain dari kantor travel.

Dengan terpaksa semua penumpang harus menunggu di sebuah rumah kosong yang terletak tidak jauh dari jalan raya. Menjelang sore dan tampaknya langit mulai mendung, semua penumpang mencari posisi nyaman di sekitar halaman rumah yang terlihat sudah lama tidak berpenghuni. Tidak satupun terlihat rumah lain di sekitarnya. Sejauh mata memandang hanya perbukitan yang ditumbuhi pepohonan besar.

Sekilas Rahmi melihat sekeliling rumah lalu ia duduk bersandar di tiang yang ada di salah satu sudut teras rumah. “Iih serem juga nih kalo musti lama-lama disini.” gumamnya kemudian Ia memasang headset dan memutar music player ditangannya.

Hujan pun turun cukup lebat, Rahmi merasa tidak nyaman. Ia memperkeras suara music, tetap saja tidak bisa mengobati beban hatinya. Tidak terasa ada air mata menetes di sudut mata. Andai saja ia masih remaja seperti dulu, ia akan langsung berlari dan meluapkan tangisnya di tengah hujan hingga tidak ada yang tahu jika dirinya sedang menangis.

“Hai, boleh ikut duduk?” seseorang yang berdiri di sebelah menyapa. Ia mengangkat wajah dan mengangguk pelan. “Dengerin apaan sih, kayanya asik bener, saya Tom.”

“Rahmi” balas Rahmi singkat dan menerima uluran tangan Tom.

"Kamu lagi sedih ya? Bukan mau ikut campur ya, cuma kuatir aja lihat cewek ngelamun di tempat kayak gini.” Tom mulai membuka percakapan.

“Oh, ga apa-apa, aku selalu baper kalo lagi ada di tengah hujan. Jangankan lagu sedih, denger lagu Halo Halo Bandung aja bisa termehek-mehek sendirian. Berada di rumah nyeremin, pas ujan gede sore-sore, in the middle of nowhere, Hiii serem...” Jawab Rahmi.

Mereka tertawa dan dalam waktu singkat mereka sudah larut dalam obrolan yang hangat.

“Kalo kamu jadi aku, gimana? Tiap hari selama empat tahun selalu dapet perhatian luar biasa, dikenalin ke keluarga besar, semua ponakannya sudah panggil aku bibi. Seisi puskesmas tempat aku kerja bahkan sampe Pa Lurah, Pa Camat pun tahu akhir tahun ini dia mau ngelamar aku ke Bandung!” Rahmi akhirnya bercerita dengan seluruh emosinya. Ia pun tidak mengerti kenapa bisa langsung akrab dan percaya untuk bercerita pada Tom.

“Hey.. hey.. chill out, malu sama yang lain, tuh lihat!” memang beberapa pasang mata terlihat memicing ke arah mereka, beberapa tersenyum melihat tingkah Rahmi.

“Hmmm... Berarti banget ya dia buat kamu?” Tanya Tom.

“Ya begitu deh, aku dokter yang ditugaskan di tempat terpencil, tanpa kenal siapa pun, lalu ada orang yang baik hati nemenin kemana pun aku butuh, banyak membantu, sampai akhirnya kita deket. Aku sempat berpikir kita akan berjodoh!” Rahmi bercerita dengan nada yang semakin melemah.

“Apa aku cuma ke GR-an aja ya Tom? Tapi masa sih sampe 4 tahun gitu dan punya rencana sampai ke jenjang serius, malah pernah sama-sama milih tanggal dengan angka cantik sebagai tanggal perkawinan kita nanti” lanjut Rahmi.

“Dia ganteng ya?” tanya Tom.

“Biasa aja. Malah sekarang kurasa dia jelek.”

“Lucu? Maksudnya humoris, suka melawak?

”Kadang–kadang dia suka melucu”

“Kaya?”

“Emmm.. yaaaa keluarganya sih punya sebuah peternakan sapi yang cukup besar. Tapi dia pun bekerja disana, bahkan sedang mempersiapkan sebuah toko sendiri untuk bekal setelah kita nikah nanti, itu rencananya. Dia baik, pintar, lucu dan... Uuuh, aku sayang sama diaaa....” Rahmi tersedu, menutup wajah dengan tangan dan membenamkan diatas lututnya.

“Shuut... udah... udah jangan nangis, nih minum.” Tom memberi sebotol air mineral, Rahmi minum dan mengembalikannya. “Simpan saja buat kamu. Terus gimana?” lanjut Tom.

“Terima kasih. Aku tidak mau kembali lagi ke desa Tom, terlalu banyak kenangan. Setiap jalan yang kami lalui, tempat yang kami singgahi, orang-orang yang kenal dengan kami berdua, aku gak sanggup lihat itu semua. Bahkan hujan pun mengingatkan aku padanya. Setiap hujan di malam hari, dia selalu nelpon memastikan aku aman, tidak ketakutan dengan hujan dan petir. Dia akan tutup telpon sampai aku tidak lagi menjawab panggilannya, tanda aku sudah tidur. Aaahh...” Rahma memeluk lututnya, menahan isak yang menyesakan dada.

“Belum lama ini dia kabari aku lewat pesan singkat, dia bilang gak bisa menemui aku lagi, dia kembali pada mantan yang sudah delapan tahun dia cari, kebayang kan Tom, seperti disamber petir siang bolong. Gampang amat dia ngomong seperti itu. Entah apa yang terjadi diantara mereka di masa lalu, tapi rasanya tidak adil buat aku. Pengen mati rasanya.” Kemudian Rahmi terdiam, hanya suara hujan deras yang mereka dengar.

“Tom... Tom!” panggil Rahmi. “Hey, Tom! Bosen ya dengerin aku ngomong?”

“Oh.. nggak, aku cuma teringat sama Lily.”

“Siapa Lily?”

“Hey, lihat sepertinya mobil yang membawa ban cadangan sudah sampai, gak lama lagi perjalanan bisa dilanjutkan.” seru Tom, dan itu mengalihkan pertanyaan Rahmi.

“Rahmi, aku mungkin gak ngerti perasaan kamu, tapi aku tahu kamu kuat, masih muda, banyak kesampatan yang masih bisa kamu raih. Kalian belum berjodoh dan itulah yang terbaik. Jangan bertindak sesuatu yang akan berujung penyesalan, please!” Suara Tom yang tadi ringan berubah menjadi sedikit memberi penekanan agar Rahmi tetap tegar.

“Hujan sedang lebat, berdoalah pada tuhan, mintalah segala yang terbaik untuk kamu dan orang-orang disekitar kamu. Semoga hujan ini membawa berkah.”

“Iya Tom, Thanks ya.” jawab Rahmi. Ia bersyukur bertemu dengan Tom.

Mobil sudah selesai diperbaiki. Beberapa orang berlari menembus hujan, Sopir membawa tiga buah payung dan memberikan satu pada Rahmi. Rahmi mengajak Tom untuk berpayung bersama, Tom menolak dan meminta Rahmi untuk mengajak penumpang perempuan lain berpayung bersamanya.

“Aku nanti nyusul, kamu hati-hati ya.” ucap Tom.

Mobil pun siap untuk melanjutkan perjalanan, namun Rahmi tidak melihat Tom. Dia melihat ke belakang, tampak tidak ada bangku yang kosong

“Pak Sopir, maaf, sepertinya ada yang belum naik. Laki-laki berkemeja kotak hitam putih, mungkin tadi duduk didepan bersama bapak?” tanya Rahmi.

“Neng, sebaiknya pindah ke depan jika tidak keberatan, saya ingin cerita sesuatu.” Ujar sopir yang membuat Rahmi penasaran. Ia pun merasa punya kesempatan untuk melanjutkan bicara dengan Tom jika memang Tom duduk di samping sopir.

“Sudah lengkap, Neng. Tidak ada penumpang indo berbaju kotak di rombongan ini” ujar Pak Sopir. “Kita ngobrol sambil jalan ya, saya kuatir terlalu malam sampai tujuan, hujan begini biasanya macet.” lanjutnya menyalakan mesin mobil dan berangkat.

Rahmi sedikit heran, kenapa sopir ini menyebutkan lelaki indo, padahal dirinya tidak bilang seperti itu sebelumnya.

“Tom emang berkulit putih, aku sempet ngira dia keturunan bule, ganteng sih. Tapi kan aku gak bilang ciri-ciri Tom sama si bapak, kok dia tau ya?” gumam Rahmi dalam hati. Tapi dia ingin dengar kelanjutan cerita dari pak Sopir.

“Kebetulan saya penduduk asli kampung ini Neng. Rumah yang tadi itu milik Den Thompson, sudah lama ditinggalkan. Den Thompson itu teman main saya waktu kecil. Keluarga saya bekerja pada orangtuanya, mereka berasal asal Rusia dan lama tinggal di sini.”

Rahmi tidak yakin dengan apa yang ia dengar. Tom yang dia temui tadi masih seumuran dengannya, sementara sopir itu mungkin sudah bercucu, mana mungkin mereka teman main.

Pak Sopir berkata bahwa rumah itu sudah lebih dari 20 tahun ditinggalkan pemiliknya. Sejak Lily meninggal suasana di rumah itu menjadi muram.

“Non Lily adalah sepupu Den Tom, ia sangat mencintai Den Tom. Sementara Den Tom sudah memilih seorang gadis dari kampung ini. Den Tom menolak tegas ketika Non Lily mengungkapkan perasaannya. Non Lily sedih dan tidak mau makan, hingga sakit dan meninggal di rumah itu.” cerita pak sopir.

. “Jangan-jangan Tom juga...?” pertanyaan muncul di kepala, Rahmi merinding.

Tom merasa bersalah dan bermaksud pergi, tapi tepat di luar gerbang rumahnya Tom terjatuh, ia terpeleset karena tanah yang basah dan hujan lebat saat itu. Tom mengalami pendarahan dan meninggal di tempat, tepat dimana mobil ini tadi terhenti. Rahmi teringat memang posisi rumah tadi sedikit lebih tinggi dari permukaan jalan.

Rahmi menatap kaca depan mobil yang masih diguyur derasnya hujan. Dia masih berusaha menyimpulkan kejadian yang baru saja ia alami dengan cerita yang ia dengar sekarang. Lamunannya pecah ketika mendengar suara sopir menegurnya.

“Neng, maafkan saya, bukan maksud menakut-nakuti, jika memang yang neng lihat tadi pemuda indo dengan pakaian kotak hitam putih, mungkin itu memang Den Tom. Saya yakin dia tidak bermaksud jahat, mungkin ada sesuatu yang dia sampaikan.” Rahmi bingung dengan apa yang terjadi, mungkin tadi dia tertidur dan bermimpi.

Dalam benaknya terbayang kejadian ketika Tom terjatuh dan meninggal. Ia terus mayakinkan diri bahwa dirinya hanya bermimpi, tapi obrolannya dengan Tom terasa sangat nyata.

Rahmi memejamkan mata untuk menenangkan diri, ia teringat ucapan Tom untuk berdoa selagi berada dalam guyuran hujan. Rahmi berdoa untuk ketenangan hatinya atas segala resah dihatinya, ia sisipkan sebuah doa untuk Tom.

Siapa pun Tom dan apapun maksud kejadian hari ini, Rahmi berharap sesuatu yang baik sudah digariskan tuhan untuknya. Dia akan menganggap kejadian tadi adalah mimpi.
Namun sesat kemudian kembali Rahmi terkejut, ketika ia menyadari di tangannya masih tergenggam botol air mineral yang diberikan Tom padanya. Rahmi berdoa semakin kuat berharap ia sedang bermimpi dan lekas tiba di Bandung.